Status PDDIKTI rektoratumsrappang@gmail.com 085299570468 Kode PT : 091058

Berita

Mawardi Pewangi, Sang Pendekar Pengaderan Muhammadiyah

KHITTAH.CO– Laki-laki kelahiran Tungka, Enrekang, 31 Desember 1962 ini dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah yang tergolong paling giat. Bagaimana tidak, Mawardi Pewangi sudah dimasuki oleh pemahaman al-Islam Ke-Muhammadiyahan sejak dirinya remaja.

Hal itu karena Mawardi menempuh pendidikan di Madrasah Tsnawiyah Pesantren Darul Falah, Enrekang hingga tingkat aliyah. Pesantren ini merupakan bagian dari Yayasan KH Ahmad Dahlan di Enrekang.

Pesantren tersebut dikenal berafiliasi kepada Muhammadiyah. Di pesantren inilah, Mawardi menjadi kader gerakan kepanduan Hizbul Wathan dan dididik langsung oleh Maestro Gerakan Kepanduan, Qadir Sarro.

Ilmu dan keterampilan yang diperoleh Mawardi menjadi bekal dirinya berdakwah. Terlebih, ia kuliah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Ujung Pandang, kini UIN Alauddin Makassar.

Mawardi tidak hanya sibuk dengan tugas akademik. Ia juga menghabiskan waktunya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Ia bahkan sempat menjadi Ketua Komisariat IMM Fakultas Adab IAIN Alauddin Ujung Pandang. Setelah itu, ia diamanahi sebagai penanggung jawab bidang Kader Pimpinan Cabang IMM Kotamadya Ujung Pandang.

Tidak hanya itu, dirinya juga pernah diamanahi sebagai penanggung jawab bidang Kader Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Sulsel. Mawardi juga dikenal sebagai spesialis screening di IMM saat itu.

Bagi anak IMM, Screening dikenal sebagai salah satu tindakan sakral dalam pengaderan. Tindakan tersebut biasanya dilakukan kepada peserta pengaderan yang dianggap paling “bermasalah”, meski peserta berprestasi pun biasanya ditindaki screening.

“Saya pernah diminta screening satu peserta. Saya bonceng dia ke kuburan. Saya tinggalkan dia sendirian di tengah kuburan tengah malam. Di situ dia jadi sadar, kenapa harus takut sama kuburan, sama orang mati, sementara kita ada tauhid,” ungkap dia.

Ia mengungkapkan, instruktur IMM dahulunya sangat kuat dalam menyampaikan doktrinasi. Terlebih dalam prosesi screening. Karena itulah, kader IMM di masanya dikenal sangat militan.

“Sebenarnya, inti dari pengaderan itu ada pada screening. Sehingga saya dulu itu dikenal sebagai tukang screening. Kalau ada pelatihan instruktur, saya diberi tugas untuk membawakan materi screening,” ungkap dia.

Hal itu dikisahkan Mawardi Pewangi saat dijumpai di ruangannya, Lantai 16 Menara Iqra Unismuh Makassar, Selasa, 31 Januari 2023, usai ujian promosinya.

Mawardi Pewangi juga mengisahkan, selama ber-IMM, dirinya seringkali ditugaskan mengelola pengaderan hingga luar kota.

“Di Kendari, saya yang pertama kali membuka DAD. Saya di Gorontalo juga. Bahkan, di Gorontalo, waktu itu, saya satu bulan di sana. Karena waktu itu, selesai DAD satu pekan, masuk DAM. Satu pekan setelah DAM, masuk LI. Kader saya, sudah ada yang jadi Ketua PDM. Banyak juga yang aktif, jadi dosen di Universitas Muhammadiyah Gorontalo,” ungkap dia.

Mawardi juga sempat menjadi Wakil Sekretaris DPD IMM Sulsel. Setelah itu, dialah yang menggantikan Ambo Asse, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel sekarang, menjadi Sekretaris Umum DPD IMM Sulsel.

Di masa inilah, dirinya banyak terlibat dalam pengaderan bagi generasi muda dan dakwah hingga daerah pelosok.

Ia membeberkan, dirinya pernah berdakwah di Malaysia, Biak Numfor Papua, Toli-toli, dan daerah lain. Ia paling sering berkunjung ke Kalimantan setiap Ramadan.

“Atas nama Muhammadiyah, saya menerima permintaan dari sana, setiap Ramadan. Dari situlah kita belajar banyak dari pengalaman dengan masyarakat, menghadapi problema masyarakat,” ungkap dia.

Bahkan, ungkap dia, dirinya seringkali menghadapi perilaku yang bertentangan dengan pemahaman al-Islam Ke-Muhammadiyahan yang ia yakini.

“Tapi kita hadapi itu dengan penuh kebijaksanaan. Inilah yang saya banyak pelajari dari kiai-kiai kita,” ujar dia.

Hal itulah yang ia pelajari dari KH Sanusi Maggu, S Madjidi, KH Djamaluddin Amien, dan KH Baharuddin Pagim.

“Kita sering pergi daerah bersama KH Sanusi Maggu. Dari situ, saya belajar istikamahnya. Beliau itu yang paling keras melatih kepercayaan diri saya. Saya pernah disuruh ceramah, dadakan,” ungkap dia.

“Masih bagus kalau kita yang disuruh ceramah dulu. Tapi kalau beliau yang lebih dahulu, kita disuruh bantah ceramahnya beliau, waah, bagaimana caranya dibantah ceramahnya beliau? Kalau kita ceramah, beliau marah. Saya tidak suruh-ko ceramah, saya minta bantah ceramah saya,” kenang Mawardi sumringah.

Mawardi Pewangi bahkan pernah ditinju oleh KH Sanusi Maggu. Mawardi mengisahkan, Mantan Ketua PWM Sulsel tersebut marah karena seusai menyampaikan ceramah, Mawardi mengucapkan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa, karena itu Mawardi memohon maaf jika ada kesalahan dalam ceramahnya.

“Wah, ditinju saya. Beliau bilang, Ah, tidak ada manusia biasa itu kalau mubalig Muhammadiyah. Manusia biasa itu yang kafir-kafir. Orang beriman itu manusia luar biasa,” kata Mawardi mengisahkan dengan mata berkaca-kaca.

Kalau dari KH Djamaluddin Amien, Mawardi banyak belajar terkait kesederhanaan dan kedisiplinan waktu. “Banyak nasihat yang diberikan ke saya Pak Kiai Djamal itu, sehingga terkadang, beliau juga curhat ke saya itu,” kata Mawardi.

Mawardi mengaku belajar terkait keikhlasan kepada KH Baharuddin Pagim. “Beliau itu sungguh sederhana, menerima apa adanya, tidak pernah banyak menuntut,” ujar dia.

Wakil Rektor IV Unismuh Makassar ini juga belajar terkakit ijtihad dan bertanggung jawab dari S Madjidi. “Pak Madjidi selalu tekankan, jangan bilang dari saya, kalau kau yang mengatakan. Pernah Beliau marah ke Pak Bakri Wahid karena di radio disebut bahwa menurut S Madjidi wah, marah Pak Madjidi itu”.

“Beliau bilang kalau itu kau katakan, tanggung jawabkan, jangan sebut itu dari saya. Biarlah yang menurut saya, untuk diri saya, ungkap Mawardi mengutip S Madjidi.”

Dari para guru itulah, Mawardi bisa bersikap seperti sekarang. Mawardi dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dan bertanggung jawab.

Saban agenda yang dihelat oleh majelis di bawah koordinasinya, Mawardi pasti setia mengawal, bahkan seringkali sampai akhir.

Tim Khittah menyaksikan sendiri Mawardi mengawal Darul Arqam dan Pelatihan Instruktur wilayah hingga akhir.

Mawardi memang mengoordinatori Majelis Pendidikan Kader (MPK). Kini, MPK jadi salah satu majelis yang teraktif di PWM Sulsel, bahkan secara nasional.

Tidak hanya itu, Mawardi juga sangat aktif mengawal kebijakan transformasi kader di kalangan angkatan muda Muhammadiyah (AMM) Sulawesi Selatan. Dialah yang memediasi AMM sehingga kesepakatan transformasi kader diterima dan dijalankan konsisten oleh seluruh pimpinan AMM.

Ia juga merupakan koordinator dari Lembaga Pembina Pesantren Muhammadiyah (LP2M). Di bawah koordinasinya, LP2M PWM Sulsel didapuk sebagai yang terbaik se-Indonesia.

Mawardi juga diketahui paling aktif mengunjungi pesantren-pesantren Muhammadiyah. Dalam waktu dekat, dirinya akan mengunjungi pesantren muallaf di daerah ketinggian Pinrang.

“Pesantren-pesantren kita ini, wadah kita untuk menyiapkan generasi penerus dengan ideologi Muhammadiyah yang kuat. Jadi, pesantren itu wadah pengaderan. Kita harus pegang teguh, peringatan Quran, jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah,” tutup Mawardi.

(https://www.khittah.co/mawardi-pewangi-sang-pendekar-pengaderan/34151/)

HFC 2023 Sosialisasikan Amal Usaha Muhammadiyah, Lazismu Jadi Sponsor

KHITTAH.CO, Sidrap- Lazismu Kabupaten Sidenreng Rappang ambil bagian dalam menyukseskan HIMAP FISIP COMPETITION (HFC) 2023 yang dihelat beberapa waktu lalu.

Ketua Lazismu Sidrap Saifullah mengatakan, pihaknya turut menyukseskan acara HFC 2023 Ini dengan menjadi salah satu sponsor.

Saat di konfirmasi melalui Whatsapp, Rabu, 1 Januari 2023, ia menyampaikan bahwa bantuan Lazismu tersebut karena kompetisi HFC ini juga menyosialisasikan amal usaha Muhammadiyah.

“Selaku warga Persyarikatan Muhammadiyah, mereka laksanakan kegiatan ini membawa nama amal usaha muhammadiyah yaitu universitas muhammadiyah sidenreng rappang. Karena itu, kami ikut membantu adek adek. Suksesnya acara adek-adek ini juga adalah suksesnya kita semua,” kata dia.

Karena itu, ke depanya, pihaknya berharap, baik dari HMPS atau IMM, jika akan melaksanakan kegiatan dakwah, aksi sosial, dan aktivitas mensyiarkan Persyarikatan, silakan dikerjasamakan dengan Lazismu.

“Tolong disampaikan kepada kami ketika mau laksanakan kegitan. Insya Allah, kami dari Lazismu Sidrap Akan senantiasa ikut terlibat dalam menyukseskan acara acara yang ada dalam amal usaha muhammadiyah,” kata dia.

“Selama itu kegiatan bermanfaat bagi amal usaha muhammadiyah dan warga Muhammadiyah pada umumnya,” tegas Saifullah.

Dalam HIMAP FISIP COMPETITION 2023 (HFC) ini, Pesantren Rahmatul Asri keluar sebagai juara umum. Kompetisi ini ditutup oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UMS Rappang yang mewakili Rektor UMS Rappang.

Dalam sambutannya, Syamsu Tang juga mengaku memberikan dukungan penuh kepada kompetisi ini. Karena itulah, dirinya memberikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan HFC 2023 ini. Terlebih, acara HIMAP FISIP COMPETITION 2023 ini menghadirkan 38 sekolah SMA di Se-Ajatappareng dan sekitarnya.

Dekan FISIP UMS Rappang, Herman Dema. juga memberikan dukungan atas pelaksanaan kompetisi ini. “Sejak awal saya tekankan, acara adek adek ini kita harus sukseskan dan apapun yang dibutuhkan adik- adik di fakultas, silakan ambil. Dengan catatan, harus dipertanggungjawabkan,” ungkap Herman.

Atas dukungan tersebut, Mahadir Muhammad Zainuddin selaku Ketua Umum HIMAP Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu politik UMS Rappang menghaturkan terima kasihnya.

“Alhamdulillah. Terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya bagi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada kami. Termasuk kepada para sponsor yang telah membantu kegiatan HFC sehingga bisa sukses dan berjalan sesuai dengan harapan,” ujar dia.

Ia juga memberikan penghargaan kepada para siswa dan guru yang hadir dalam penutupan HFC ini. Terutama, atas partisipasi sekolah yang telah berpartisipasi sebagai peserta dalam HFC 2023 ini.

Laporan dari: Miswan- Kontributor Sidrap

(https://www.khittah.co/hfc-2023-sosialisasikan-amal-usaha-muhammadiyah-lazismu-jadi-sponsor/34153/)

AMM Harus Amanah, Hindari Konflik, dan Giatkan Pola Dakwah Rasul

KHITTAH.CO, Makassar- Ada yang sedikit demi sedikit pudar dari kepribadian angkatan muda Muhammadiyah (AMM), yaitu sikap amanah.

“Saya lihat yang sekarang pudar di angkatan muda, ya itu, amanah. Mereka tidak serius jika diberikan kepercayaan, Ini kelemahan kader kita,” demikian kata Mawardi Pewangi.

Karena itulah, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan ini menekankan, kepercayaan itu harus dijaga sekuat mungkin.

“Jaga kepercayaan. Itulah sehingga saya selama di Muhammadiyah Sulawesi Selatan, saya tidak pernah tidak rangkap. Saya di Sekretaris LP2AIK, waktu itu belum ada Wakil Rektor 4, saya sudah rangkap sebagai wakil kepala sekolah di Gombara, 1992,” ungkap dia.

Mawardi juga pernah menjabat Wakil Dekan 3 di Fakultas Agama Islam (FAI) Unismuh Makassar, saat itu dirinya merangkap jabatan lain.

“Waktu saya Dekan FAI juga saya merangkap Bendahara BPH Unismuh. Sebenarnya kita tidak mau, tapi itu kepercayaan dan itu harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan,” ungkap dia.

Tidak hanya itu, Ia juga menekankan, dalam Muhammadiyah, seharusnya tidak ada kelompok-kelompok konflik.

“Karena di Muhammadiyah ini tidak ada watak dan kepribadian yang tidak dibutuhkan. Karena itu, jangan membenci orang. Ini yang selalu dipesankan KH Djamaluddin Amien,” ujar dia.

“Ada orang yang hanya bisa mengkritik tidak bisa kerja, itu dibutuhkan juga. Ada juga yang bisanya cuma berpikir, mengonsep, jangan suruh dia kerja, karena pasti tidak bisa, tapi itu dibutuhkan juga,” kata Mawardi.

Karena itu pulalah, ia mengimbau, dalam Muhammadiyah, sebaiknya, jangan berambisi. Ia mengutip pesan KH Djabbar Asysyiri, Mantan Ketua PWM Sulsel.

“Sebagai kader, jangan meminta jabatan, kemudian jangan menolak kalau dikasih jabatan, selama kita masih mampu dan tidak ada yang terbengkalai salah satunya dari situ,” kata Mawardi mengutip Kiai Djabbar.

Hal tersebut ia sampaikan saat Khittah menemuinya di Lantai 16 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, pada Selasa, 31 Januari 2023.

Selanjutnya, ia menekankan, kader itu harus berlapang dada. Kader tidak boleh lari dari jemaah jika pendapatnya tidak diterima.

“Boleh kita berpendapat, tapi kalau pendapat kita tidak diterima, kita ikuti pendapat yang telah disepakati. Intinya, jangan konflik. Boleh berbeda tapi jangan konflik. Jangan membenci orang,”tegas Mawardi.

Hal itu karena ber-Muhammadiyah sesungguhnya adalah beribadah. Hal ini, kata Mawardi, juga merupakan pesan yang selalu ditekankan KH Djamaluddin Amien.

“Beliau pernah itu sampaikan ke saya. Saya ini, alhamdulillah, kata beliau, seluruh doa saya sudah dikabulkan di Muhammadiyah. Kecuali satu, yaitu saya belum dimatikan oleh Allah dalam keadaan mengurusi Muhammadiyah,” ujar dia mengutip pernyataan Kiai Djamal.

Karena itulah, lanjut Mawardi, Allahuyarham KH Djamaluddin Amien mendirikan SMP Unsimuh Makassar, selepas amanahnya sebagai Ketua PWM Sulsel.

“Beliau juga mendirikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Talasalapang dan menjadi ketua ranting. Harapannya, mudah-mudahan beliau tidak mati dalam keadaan tidak mengurusi Muhammadiyah,”

Ini juga sejalan dengan prinsip S Madjidi bahwa mati dalam mengurusi Muhammadiyah adalah mati dalam ibadah.

Alhamdulillah, mereka semua itu wafat dalam keadaan masih mengurusi Muhammadiyah, dalam keadaan beribadah.

Kedisiplinan dan Strategi Dakwah

Mawardi Pewangi juga menekankan kedisiplinan. Muhammadiyah inilah, menurut dia, organisasi yang paling mengutamakan kedisiplinan.

“Pengaderan kita itu kan seharusnya membuat kita disiplin karena semuanya tertata rapi, organisasi kita juga begitu, tersistem dengan baik, modern,” ujar Mawardi.

Dengan kedisiplinan, ia yakin, seseorang bisa menempatkan dirinya di mana saja. Seseorang yang disiplin tidak akan mudah terombang-ambing, tapi tetap terbuka dengan perubahan dan perbedaan.

Dirinya mengaku bergaul dengan siapa saja. “Dengan pendeta, dengan tokoh-tokoh NU, terkadang kita berdiskusi, biasa saja itu. Yang penting jangan menyalah-nyalahkan orang. Menghargai semua ulama,” kata dia.

Ia mengisahkan, dirinya pernah ke Soni, Toli-Toli untuk berdakwah. “Tokoh masyarakat di sana mengatakan, langkahi dulu mayat saya baru bisa berdakwah Muhammadiyah,” kisah Mawardi.

Namun, selang waktu, karena dakwah disampaikan dengan ramah dan santun, tokoh masyarakat tersebut menerima Muhammadiyah.

“Alhamdulillah, bahkan, setelah kita kembali, justru dia berwakaf tanah untuk Muhammadiyah, memberi wakaf untuk TK ‘Aisyiyah,” ungkap Mawardi sambil tersenyum.

Menurut dia, keterbukaan dan ketabahan juga merupakan sikap yang harus dimiliki oleh kader Muhammadiyah dalam berdakwah.

Di Malaysia, dirinya pernah berdakwah di tengah kondisi orang Sulsel terstigmakan oleh masyarakat setempat. Karena itulah, sebelum dirinya berceramah, dirinya harus ditatar dengan ketat terlebih dahulu oleh otoritas di sana.

“Saya harus pakai baju gamis, pakai tongkat, diantar dengan salawat. Tapi, kita ikuti saja. Jangan kita tolak, wah, ini tidak sunah! Jangan kita begitu! Wah, tidak bisa itu. Dakwah kita tidak bisa jalan kalau kita langsung menolak begitu,” kata dia.

Ia menekankan, pola Rasulullah dalam berdakwah harus selalu diingat dan diaplikasikan. Pertama, ketika baru datang ke suatu komunitas, harus langsung bersilaturahmi dengan pihak setempat.

“Persaudaraan dulu. Jangan singgung hukum dulu. Kemudian, kita menawarkan ide-ide yang bisa diterapkan,” kata dia.

“Waktu di Balikpapan itu, saya sampaikan ide dulu, bagaimana kalau kita training remaja masjid. Gampang bagi kita itu, kita ini kan instruktur IMM. Alhamdulillah, mereka jadi semangat sekali,” ungkap Mawardi.

Setelah itu, melakukan bimbingan. Kata dia, bimbingan itu, jangan pakai kata ‘haram’. Untuk larangan, ganti dengan ‘sebaiknya ditinggalkan’. Kalau perintah, ganti dengan ‘sebaiknya dikerjakan’.

“Jangan, oh, ini wajib, oh ini haram. Jangan. Apalagi bagi orang baru. Nanti kalau sudah mereka ikut, baru kita halal-haram,” kata dia.

Lebih lanjut, ia mengisahkan, dirinya pernah diberikan gelas besar berisi air untuk ia minum saban usai memberikan ceramah.

“Kenapa ini saya selalu diberikan gelas besar. Rupanya, itu keyakinan mereka, sesudah kita minum, kan tidak habis airnya kan? Mereka perebutkan air minum kita,” kisah dia.

Kisah dia, seorang ibu juga pernah meminta supaya mulut anaknya diludahi dengan liur Wakil Ketua PWM Sulsel ini.

“Kita memang tidak boleh katakan itu boleh, tapi, nanti di belakang baru kita jelaskan. Ini sebenarnya hukumnya begini, begini. Jangan langsung kita tolak, karena itu akan mengecewakan. Kalau orang sudah kecewa, jangan harap dakwah bisa masuk kepadanya,” tegas Mawardi.

Mawardi berharap, angkatan muda Muhammadiyah dapat melatih diri lebih giat untuk memperbaiki hal-hal yang kini dianggap mulai pudar dalam diri generasi pelanjut Persyarikatan.

Ia menekankan, selama masih ada kemauan dan hayat masih di kandung badan, perbaikan diri masih selalu memungkinkan.

(https://www.khittah.co/amm-harus-amanah-hindari-konflik-dan-giatkan-pola-dakwah-rasul/34169/)

Tujuh Isu Keumatan yang Dicetuskan Muhammadiyah Perlu Diperhatikan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG—Muhammadiyah melalui Muktamar ke-48 tanggal 18–20 November 2022 di Surakarta telah menetapkan isu-isu strategi. Salah satu isu yang dibahas ialah problem keumatan. Menurut Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Alimatul Qibtiyah dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji pada Kamis (26/01), ada tujuh isu keumatan yang dibahas, di antaranya:

Pertama, fenomena rezimentasi paham agama. Menurut Alim, Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila, bukan negara agama maupun negara sekuler. Karena bukan negara agama maka tidak boleh ada agama yang mendominasi, apalagi kelompok keagamaan tertentu. Akan tetapi, saat ini selain terdapat kenyataan adanya kekuatan formalisasi agama di ruang publik, pada saat yang sama adanya gejala rezimintasi agama oleh suatu kelompok keagamaan.

“Umat Islam memiliki keragaman pendapat dan pandangan yang itu harus kita hargai,” ucap Alim.

Kedua, membangun kesalehan digital. Para pemimpin agama, ulama-intelektual, elite bangsa, tokoh adat, serta institusi-institusi pendidikan dan sosial keagamaan penting menjadi aktor yang terlibat aktif dalam mengembangkan keadaban digital sekaligus menjadi uswah hasanah atau teladan yang baik dalam menggunakan teknologi digital yang masif itu. Perlu panduan keagamaan dan moral membangun kesalehan digital di berbagai institusi dan lingkungan sosial masyarakat luas.

Ketiga, memperkuat persatuan umat. Diperlukan komunikasi yang lebih intensif di antara pimpinan organisasi-organisasi Islam untuk menghilangkan sentimen primordial dan menjalin kedekatan personal serta persahabatan yang sejati.

Keempat, reformasi tata kelola filantropi Islam. “Saya sangat senang di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah itu ada gerakan ekonomi di setiap sektor. Di sini bagaimana Lazismu, MDMC, dan lain-lain memainkan peran penting dalam filantropi Islam, membantu mereka yang kesusahan dan sebagainya,” ucap Alim.

Kelima, beragama yang mencerahkan. Dalam memahami ajaran agama, digunakan tiga pendekatan, yakni bayani (menggunakan teks), burhani (menggunakan akal) dan ‘irfani (menggunakan hati). “Kalau kita menggunakan pendekatan yang dilakukan Majelis Tarjih ini, maka itu akan bisa menjadikan agama sebagai medium pencerahan,” tutur Alim.

Keenam, otentisitas wasathiyah Islam. Menurut Alim, Wasathiyah berarti membangun sikap beragama yang moderat. Cara pandang beragama yang tengahan (wasathiyah) dengan mengedepankan paham dan sikap yang adil, ihsan, arif, damai, dan menebar rahmat baik dalam menyikapi perbedaan maupun membangun kehidupan beragama.

Ketujuh, spiritualitas generasi milenial. Pergeseran dan perubahan pandangan hidup dan kehidupan yang cenderung menjauh dari nilai-nilai luhur budaya Indonesia dan agama bisa menimbulkan terjadinya degenerasi diniah (keagamaan). Generasi milenial adalah pelangsung, penerus perjuangan, dan pemegang estafeta kepemimpinan yang bertanggung jawab memajukan dan membangun kesejahteraan umat, bangsa, dan negara.

(https://muhammadiyah.or.id/tujuh-isu-keumatan-yang-dicetuskan-muhammadiyah-perlu-diperhatikan/)

Saad Ibrahim: Inti daripada Ikhlas adalah Tauhid

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG—Al Ikhlas artinya adalah memurnikan keesaan Allah. Al Ikhlas artinya secara khusus membahas tentang tauhid atau keesaan Allah. Surah Al Ikhlas menegaskan konsep keesaan Allah dan membatalkan semua bentuk penyembahan berhala dan kemusyrikan. Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Saad Ibrahim.

“Bertauhid merupakan suatu proses pemurnian keberadaan Tuhan dari hal-hal yang tidak kita akui sebagai Tuhan,” ujar Saad Ibrahim dalam agenda Pengajian Tarjih Muhammadiyah ke-204 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (25/1).

Tauhid berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya Wajib al-Wujud. Allah merupakan entitas yang keberadaannya begitu absolut. Berbeda dengan semua makhluk hidup yang menempati posisi Mumkin al-Wujud, Allah merupakan sumber dari segala kebaikan (al-shamad). Karenanya, tauhid bukan sekadar mengesakan Allah, melainkan juga menempatkan-Nya sebagai segala puncak kemuliaan, puncak kebaikan, dan memiliki puncak keunggulan. Agar manusia mendapat kemuliaan dan kebaikan, ia senantiasa harus bergantung hanya pada Allah.

Selain itu, ikhlas memiliki arti memurnikan tujuan hidup yang sepenuhnya untuk Allah. Hidup akan semakin mudah dijalani apabila segalanya diserahkan kepada Allah. “Ketika kita menempatkan Allah di tempat tertinggi, posisi apa pun yang kita duduki dan kapan pun kita berhenti dari kedudukan itu, hal tersebut tidak akan membebani pikiran kita,” ujar Saad.

Seseorang yang memiliki ketauhidan yang kuat kepada Allah tidak akan merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hadapan orang lain. Seorang pemimpin yang memegang kuat nilai-nilai tauhid tidak akan melakukan perbuatan dzalim. Karakter seperti ini akan berimplikasi pada terwujudnya sebuah keadilan.

“Bertauhid itu ketika kita tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, apalagi merasa lebih tinggi di hadapan Allah. Bisa jadi yang lebih tinggi posisinya dihadapan Allah adalah mereka yang di dunia berstatus sosial paling rendah. Sehingga kalau kita ikhlas kepada Allah, kita akan memiliki pandangan berpikir yang jernih, menghadapi segala sesuatu dengan penuh kejernihan. Karena ia tahu bahwa yang di atas hanya Allah. Kita juga tidak minder berhadapan dengan siapa saja,” jelas Saad.

(https://muhammadiyah.or.id/saad-ibrahim-inti-daripada-ikhlas-adalah-tauhid/)

Geliat Pengajian Rutin Muhammadiyah Sidenreng Rappang

KHITTAH.CO, Sidrap- Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidenreng Rappang (Sidrap) melalui Majelis Tabligh melaksanakan pengajian rutin bulanan di Masjid Nurul Mujahidin. Pengajian tersebut merupakan bagian dari rihlah dakwah PDM Sidrap.

Dalam kesempatan tersebut, Jamaluddin Suhufi yang membidani Majelis Tablig PDM Sidrap mengatakan, pengajian ini rutin dilaksanakan dua kali sebulan. Kali ini pengajian dihelat pada Selasa, 24 Januari 2023.

Pengajian tersebut rutin dihelat di pekan pertama dan ketiga setiap bulan. Seluruh masjid Muhammadiyah akan digilir sebagai pelaksana pengajian.

“Pengajian ini untuk mempererat silaturahim dengan warga Muhammadiyah dan warga umum lainya. Semoga kita dapat lebih menggiatkan dakwah seperti di tengah masyarakat, agar kita dapat menjadi orang yang beruntung,” kata Jamaluddin Suhufi.

Pengajian yang dihelat di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Baranti tersebut dibawakan oleh Takdir Baharuddin dengan tema “Menjadi Hamba yang Beruntung di sisi Allah”.

Beberapa poin inti dari pengajian tersebut adalah, untuk menjadi beruntung, seorang hamba harus menjaga akidah dengan menjauhi kesyirikan.

Karena itu, manusia harus menyandarkan diri kepada Allah Swt dengan banyak berdoa dan mendekatkan diri dengan mengimani, membaca, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Alquran.

“Sehingga kita disebut ahlul Qur’an. Sekecil apapun Allah berikan kepada kita, patut tetap harus di syukuri. Setiap pemberian Allah itu adalah nikmat yang begitu luar biasa,” ujar Taqdir.

Tidak hanya di Baranti, Muhammadiyah Boarding School (MBS) Sidrap juga rutin menghelat pengajian rutin. Tidak hanya untuk santri, tapi juga untuk warga sekitar.

Salah satu sekolah unggulan muhammadiyah di Sidenreng Rappang ini rutin menggelar kajian hadis Arba’in setiap satu kali dalam sepekan.

Untuk kajian yang dihelat pada Rabu, 25 Januari 2023 di Musalah K.H. Abdul Manna T itu, menghadirkan Ramli Sadri sebagai pengkaji.

Pembina MBS Sidrap, Rahmat Hidayat mengungkapkan, kajian rutin ini untuk memberikan wawasan yang lebih luas kepada siswa-siswaMBS dan warga Persyarikatan tentang hadis-hadis Rasulallah Saw.

“Kami merasa bertanggung jawab atas ketersediaan wadah belajar Islam, tidak hanya untuk santri, tapi juga warga Persyarikatan, dan masyarakat pada umumnya. Apalagi, MBS Sidrap ini merupakan salah satu sekolah pengerak muhammadiyah yang langsung dibina oleh Universitas Muhammadiyah Sidrap.

(https://www.khittah.co/geliat-pengajian-rutin-muhammadiyah-sidenreng-rappang/34036/)

Tauhid Itu Meninggikan Allah dan Memperlakukan Semua Manusia Setara

MALANG, Suara Muhammadiyah – “Ikhlas memiliki arti dasar memurnikan. Dari definisi tersebut ikhlas menjadi inti dari ajaran Islam yang mana di dalam QS. Al-Ikhlas menjelaskan aspek ketauhidan secara penuh kepada Allah. Sehingga bertauhid merupakan suatu proses pemurnian keberadaan Tuhan dari hal-hal yang tidak kita akui sebagai Tuhan,” ujar Saad Ibrahim dalam agenda Pengajian Tarjih Muhammadiyah ke-204 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (25/1).

Pria yang menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut menjelaskan, tauhid adalah memposisikan Allah di tempat tertinggi, sedangkan manusia menempati posisi sebagai hamba-Nya. Ketauhidan yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat ke-112 tersebut menggambarkan Allah sebagai sumber dari segala kebaikan (As-somad). Oleh karena itu, sebagai hamba, manusia harus menggantungkan segala urusan kehidupannya kepada Allah, ialah Dzat yang kepada-Nya seluruh makhluk bergantung.

Maka dalam konteks ini kata tauhid tidak hanya sekedar mengesakan Allah, tapi juga memiliki keyakinan bahwa Dzat yang Maha Esa itu merupakan Dzat yang memiliki segala puncak kemuliaan, puncak kebaikan, dan memiliki puncak keunggulan. Dari sini tentu akan ada pengaruh psikis kepada kita bahwa untuk mendapatkan kemuliaan tersebut manusia harus menyandarkan setiap urusannya kepada sang pemilik kemuliaan, yaitu Allah SWT.

Saad menambahkan, ikhlas juga bisa bermakna memurnikan tujuan hidup yang sepenuhnya untuk Allah. Seluruh yang kita lakukan dalam konteks beragama haruslah sepenuhnya tertuju kepada Allah. Tidak ada maksud atau tujuan kecuali kepada Allah. Sekalipun begitu, hal ini akan sangat berimplikasi kepada kehidupan sosial kita sebagai manusia. Orang yang baik akhlaknya kepada Allah dapat dipastikan akan baik pula hubungannya dengan sesama. Kebaikannya kepada Allah akan tercermin sebagai hamba Allah. Dan kebaikannya kepada sesama akan tercermin sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sehingga tak dapat di pungkiri bahwa kedua hal ini menjadi kunci utama kehidupan. Maknanya bahwa melalui kalimat tauhid, kita akan memposisikan Allah di tempat tertinggi, dan dengan kalimat tauhid pula kita posisikan manusia berada jauh di bawah sana.

“Ketika kita menempatkan Allah di tempat tertinggi, posisi apa pun yang kita duduki dan kapan pun kita berhenti dari kedudukan itu, hal tersebut tidak akan membebani pikiran kita,” ujar Saad.

Sebagai sumber segala kebaikan, Allah memiliki eksistensinya yang tak terbatas, sementara manusia bisa ada dan bisa juga tidak ada. Jika dahulu Allah tidak berkehendak untuk menciptakan manusia, hari ini manusia tidak mungkin ada. Maka beradaan kita sangat bergantung kepada Allah. “Inilah yang disebut dengan tauhid, dan lawan dari tauhid adalah syirik. Implikasi dari syirik adalah kedzaliman,” tegasnya.

Ibnu Khaldun dalam muqadimahnya menulis bahwa kedzaliman itu benar-benar dapat menghancurkan peradaban. Maka, peradaban yang kekal dan tetap berada di posisi yang tinggi adalah peradaban yang dibangun dengan asas tauhid yang nantinya akan berimplikasi pada terwujudnya sebuah keadilan.

Ia mencontohkan, pada zaman sebelum kenabian Muhammad, di sekitar Makkah dan Madinah bercokol dua raksasa besar yaitu Romawi dan Persia. Ketika Romawi menguasai suatu kawasan, maka kawasan tersebut akan dipaksa memeluk agama Nasrani. Dan sebaliknya jika Persia menguasai sebuah kawasan, maka kawasan tersebut akan dipaksa memeluk Zaratustra. Melalui kenabian Muhammad, Islam datang berbeda. “Nabi tidak melakukan praktek-praktek seperti itu. Islam tidak menggunakan jalan paksaan,” ujarnya.

Pada saat pasukan Islam berhasil menguasai Palestina, Gubernur Romawi meminta Umar yang pada saat itu menjabat sebagai Khalifah bagi umat Islam yang berkedudukan di Madinah untuk datang ke Palestina. Setelah Umar datang, ia bertanya tentang Solomon Temple. Oleh beberapa prajuritnya disampaikan bahwa Solomon Temple sudah tidak ada. Kuil Sulaiman yang menjadi tempat peribadatan orang-orang Yahudi tersebut telah berubah fungsi menjadi tempat pembuangan akhir. Mendengar dan melihat realita tersebut Umar pun marah besar dan meminta prajuritnya untuk membersihkan Kuil tersebut. Setelah Solomon Temple bersih, Umar pun berpidato, “Solomon Temple ini saya kembalikan kepada orang-orang Yahudi, silahkan digunakan untuk beribadah. Yang Nasrani silahkan pergi ke gereja dan bagi yang Muslim silahkan pergi ke Baitul Maqdis,” tegas Umar.

Inilah yang menurut manta Ketua PWM Jawa Timur adalah keadilan yang merupakan implikasi dari tauhid. Sebab ketika kita mengangkat posisi kita lebih tinggi dari yang lain. Maknanya secara tidak langsung kita telah memandang bahwa yang lain berkedudukan lebih rendah. Sehingga kita merasa bisa berlaku sewenang-wenang (dzalim) kepada mereka. Nabi pun mengomentari hal ini dan mengatakan bahwa posisi manusia dengan manusia yang lain tak ubahnya seperti sisir, rata. Ketika ada manusia yang berbuat dzalim kepada manusia yang lain, maka ia telah memproklamirkan dirinya setara dengan Tuhan.

“Bertauhid itu ketika kita tidak merasa lebih tinggi dari orang lain, apalagi merasa lebih tinggi dihadapan Allah. Bisa jadi yang lebih tinggi posisinya dihadapan Allah adalah mereka yang di dunia berstatus sosial paling rendah. Sehingga kalau kita ikhlas kepada Allah, kita akan memiliki pandangan berpikir yang jernih, menghadapi segala sesuatu dengan penuh kejernihan. Karena ia tahu bahwa yang di atas hanya Allah. Kita juga tidak minder berhadapan dengan siapa saja,” jelas Saad. (diko)

(https://suaramuhammadiyah.id/2023/01/26/tauhid-itu-meninggikan-allah-dan-memperlakukan-semua-manusia-setara/)


Bagaimana Dakwah Muhammadiyah di Tana Toraja?

KHITTAH.CO, Tana Toraja- Daerah ini biasa disebut Tator. Tana Toraja adalah kabupaten di Sulawesi Selatan dengan penduduk mayoritas non-Islam. Fakta ini menjadi tantangan bagi Persyarikatan.

Sejarahnya, Muhammadiyah masuk ke Tator, diperkirakan sekira 1935. Saat itu, pedagang yang juga anggota Muhammadiyah Palopo bernama S. Machmud dan Abdul Gani (Wa’na atau Wa’Ganing) memang datang untuk mengembangkan Persyarikatan di daerah pegunungan ini.

Hal ini terungkap dalam buku “Menapak Jejak Menata Langkah Sejarah dan Biografi Ketua-Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan (2015)” karya Mustari Bosra dkk.

Saat itu, masyarakat Tana Toraja sudah menganut Kristen, selain kepercayaan tradisional, Alu Todolo. Tidak dapat ditampik, Muhammadiyah Makale kala itu kesulitan berdakwah.

Hebatnya, meski dinding tinggi menghadang, Muhammadiyah Makale tetap dapat mengembangkan gerakan.

Buktinya, pada 1936, Madrasah Muhammadiyah di Rantepao dapat berdiri, meski pada 1937 dipindahkan ke Makale.

Prinsip Dakwah Muhammadiyah Toraja

Gerak dakwah itu juga masih terlihat hingga kini. Meski harus diakui, tidak semudah daerah lain, memang. Hal ini terungkap saat Tim Khittah bertandang ke Makale, Selasa, 10 Januari 2023.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tana Toraja menyambut kami dengan hangat. Mereka adalah ketua Zainal Muttaqin, sekretaris Rhony, dan wakil ketua Muhammad Sabir.

Saat ditanyai perihal tantangan dakwahnya, Kiai Zaenal, begitu sapaan Ketua PDM Tana Toraja, mengungkapkan pendekatan yang dilakukan Muhammadiyah di daerah minoritas itu.

“Muhammadiyah itu organisasi dakwah, gerakan Islam yang bersumber pada Quran dan Sunah. Semua gerakannya itu diarahkan untuk mengamalkan Islam dan mengembangkan Islam. Tapi, tetap mengontekstualisasikan atau membumikan Islam,” ungkap dia.

Karena itu, sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah Toraja tidak hanya berdakwah lisan. Mereka mengaku tidak hanya menyampaikan, apalagi sekadar melarang-larang.

“Tapi, kami harus bil khair, karena kita berada di daerah minoritas. Kita harus menampilkan Islam itu dengan menarik, bukan menakut-nakuti. Saya sepakat dengan Pak Haedar Nashir, ber-Islam itu harus istikamah, tapi lapang, mengedepankan kasih sayang, persaudaraan, kebersamaan,” kata dia.

Karena itulah, pihaknya mengedepankan prinsip tadayyun. Ia menjelaskan, tadayyun adalah kesadaran atas perbedaan yang ada di selingkung.

“Dakwah di Tana Toraja, banyak orang yang mengatakan, besar tantangannya, tapi sesungguhnya, orang Toraja itu welcome saja dengan kita,” kata Zainal.

Ia mengungkapkan, orang Toraja sesungguhnya bersikap terbuka atas paham apa pun yang datang. “Hanya saja, mereka tentu kuat dengan keyakinan mereka. Meskipun banyak juga orang Toraja yang tertarik untuk masuk Islam,” kata dia.

Ia menambahkan, masyarakat Toraja mengenal konsep Tongkonan. Kiai Zainal menjelaskan, Tongkonan merupakan lembaga adat Toraja yang melekatkan tradisi-tradisi masyarakat.

Tongkonan juga dijadikan sebagai wadah mediasi jika terjadi benturan-benturan di tengah masyarakat Toraja.

“Tongkonan ini sudah ada sebelum agama ada, diwariskan hingga kini. Dalam tongkonan itu, orang Toraja menyilakan beragama apa pun, tapi, dalam keluarga, semua harus tetap menyatu,” kata Zainal.

Bahkan, ia mengaku, dirinya biasa berceramah dalam Tongkonan, karena di dalam keluarga tersebut ada beragama Islam.

Ia mengaku seringkali berceramah takziah dan diikuti oleh mayoritas non-Islam. “Mereka diam menyimak, mendengarkan. Tapi, apakah mereka tertarik masuk Islam? Setidaknya mereka jadi tahu bagaimana sebenarnya itu Islam. Ini strategi dakwah juga,” ujar Kiai Zainal.

Meski demikian umat Islam di Toraja tetap tidak mencampur-adukkan agama (tasabuh). “Ketika mereka Natalan, orang Islam juga diundang, hadir juga, tapi kalau ibadah, tidak ikut. Bahkan, ketika kita bangun masjid, ada panitianya yang Kristen. Mereka bantu pasir, semen,” ungkap Zainal.

Strategi Dakwah

Ketua PDM menyebut ke-Islaman orang Toraja diwarnai oleh Muhammadiyah. Ini terbukti, masjid raya Toraja adalah masjid Muhammadiyah. Zainal juga didapuk sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terkait eksistensi di tengah masyarakat, Muhammadiyah Tator juga tergolong aktif turun tangan dengan Lazismu-nya. Masyarakat Toraja sudah tidak asing dengan aksi sosial Muhammadiyah, melalui Lazismu.

Demikian pula MDMC. Saat bencana melanda Mamuju dan Masamba, Pusat Dakwah Muhammadiyah (PUSDAM) Tator menjadi tempat transit dan penampungan relawan juga logistik.

“Alhamdulillah. Dalam aksi kemanusiaan, Muhammadiyah di Tana Toraja selalu terdepan. Silakan tanya. Jadi, kami mendakwahkan Muhammadiyah bukan untuk sekadar supaya mereka masuk Islam,” kata dia.

Pimpinan Muhammadiyah Tana Toraja menyadari betul bahwa pihaknya seharusnya tidak hanya berdakwah, tapi juga mencari peluang dakwah. “Kami sadar betul, Muhammadiyah itu gerakan tajdid, yang kami lakukan di sini itu,” tegas dia.

Hal yang tidak kalah penting, kata Kiai Zainal adalah menyinergikan dakwah dengan kearifan lokal. Demikian pula dengan melihat potensi untuk berdakwah efektif.

Upaya untuk Tetap Eksis

Muhammadiyah Tana Toraja memiliki lima pimpinan cabang. Zainal mengungkapkan, pengajian yang dihadiri pimpinan cabang dimanfaatkan sebagai wadah konsolidasi organisasi dan ideologi.

“Di sini ada pengajian pimpinan, pengajian gabungan yang melibatkan semua, di tingkat cabang juga begitu. Misalnya di Cabang Mangkendek. Itu yang paling aktif pengajian,” kata dia.

“Pengajian kami tetap jalan. Bahkan itu ruh. Karena di situlah ta’liful qulub. Karena sering bertemu. Nggak bisa kalau tidak ketemu. Kalau sudah ketemu hati, barang yang tidak baik menjadi bagus,” tegas dia.

Bahkan, dilaporkan, Muhammadiyah Tana Toraja telah membentuk Korps Mubalig yang lahir dari Pelatihan Mubalig Muhammadiyah yang pernah dihelat beberapa tahun lalu.

Untuk kaderisasi, Muhammadiyah Tana Toraja tetap melakukan baitul arqam, termasuk bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan.

Termasuk kepala sekolah dan madrasah semua amal usaha bidang pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah.

Hal yang patut disyukuri, angkatan muda Muhammadiyah di Tana Toraja tergolong aktif. Terbukti, dalam periode ini, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tana Toraja berhasil terbentuk, bahkan sudah dua periode.

Masa depan Muhammadiyah Tana Toraja berada di pundak angkatan muda Muhammadiyah. Pasalnya, kini, kader sangat minim.

Karena itulah, Majelis Tarjih dan Tajdid digabung dengan Majelis Tablig di Tana Toraja. Tidak hanya itu, Majelis Pembina Kader (MPK) juga digabung dengan LPCR.

Demikian pula, Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan yang digabung dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat.

Majelis Wakaf dan Kehartabendaan digabung dengan Majelis Lingkungan Hidup. Terakhir, Majelis Hukum dan HAM digabung dengan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP).

Zainal tidak menampik, meski telah ditempuh penggabungan majelis/lembaga, namun pengurusnya masih banyak yang tidak aktif.

“Kita salah pilih figur. Terkadang kan kita pilih figur karena dianggap ketokohannya, sehingga tidak berpikir, mereka itu ada waktunya gak? Itu yang jadi hambatan kita. Apalagi kalau mereka tidak dari awal di Muhammadiyah, misal dari IPM, IMM, beda hasilnya,” kata dia.

Tapi, ia mengaku, pihaknya terus mengajak mereka, melakukan persuasi. “Itulah kenapa kami terus mengadakan rapat. Kami terus mengundang mereka,” ungkap Zainal.

Sejak Zainal Muttaqin memimpin Muhammadiyah Toraja, ia mengaku lebih mengedepankan kebersamaan. Prinsipnya, keberhasilan adalah keberhasilan bersama, kegagalan pun demikian.

“Prinsip kami, hasil musyawarah yang salah masih lebih baik daripada kebenaran yang dilakukan sendiri. Semua kami di sini ditangani dengan gotong royong, bersama-sama,” tegas dia.

“Sehingga, ada yang bilang, kenapa PDM ini rapat terus, rapat terus. Ini karena memang seperti yang saya katakan tadi itu. PDM kan juga tugasnya monitoring, mengoordinir,” kata Zainal.

Meski demikian, satu hal yang andalan dari PDM Tana Toraja. Terkait kemandirian ekonomi, Muhammadiyah Tana Toraja mendirikan Toko Sinar 12. Tidak hanya itu, PDM Tator juga memproduksi kopi kemasan dengan brand KopiMu.

(https://www.khittah.co/bagaimana-dakwah-muhammadiyah-di-tana-toraja/33979/)

Prihatin Atas Kesulitan Air Bersih yang Dialami Pemulung, Lazismu Salurkan Bantuan Tandon Air Bersih

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Sering mengalami kesulitan air bersih, Kelompok Pemulung Mardiko di TPST Piyungan, Bantul mendapat bantuan tandon air bersih dari Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam siaran pers yang diterima muhammadiyah.or.id, pada (25/1), Ketua Kelompok Pemulung Mardiko, Maryono menuturkan bahwa keberadaan TPST Piyungan selain menjadi lahan mata pencaharian, di sisi lain juga menimbulkan dampak pada penurunan kualitas air di sekitarnya.

Di tempat ini bahkan ditemukan air beracun yang dikenal dengan air lindi. Air lindi merupakan air limbah yang dihasilkan akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah yang melarutkan materi-materi organik hasil dekomposisi sampah.

“Sekitar ada lima RT sudah mengalami gangguan air bersih akibat dampak air lindi itu. Kejadian ini sudah sejak awal tahun 2000-an, hingga sampai sekarang.” ujarnya.Hal itu menimbulkan kesulitan bagi pemulung yang ingin membersihkan diri setelah melakukan aktivitas di tumpukan sampah. Maryono menjelaskan, sebelumnya sempat dibangun fasilitas air bersih namun saat ini sudah tidak berfungsi karena tidak ada biaya untuk mengisi air bersih.

“Namun tandon air itu sudah lama tidak berfungsi karena para pemulung kesulitan biaya untuk membeli air. Akibatnya ketika waktu makan tiba, mereka merasa kesulitan untuk membersihkan diri dari kotoran.” Imbuhnya.

“Terdapat 450 pemulung yang bekerja disini. Ketika memasuki waktu dzuhur atau makan, mereka harus membersihkan tangan mereka. Diperlukan air bersih yang mengalir sehingga tetap terjaga pola hidup bersih,” kata Maryono.

Bantuan tandon air dan air bersih dari Lazismu DIY ini juga untuk mendorong kesadaran perilaku hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit. Selain itu, Lazismu juga memberikan bantuan seperangkat alat untuk sholat agar dapat membantu para pemulung beribadah dengan khusyuk.

Mewakili Lazismu Wilayah DI Yogyakarta, Rizal Firdaus selaku Staf Program mengucapkan terima kasih kepada para penerima manfaat yang telah menerima bantuan tersebut. Ia pun berharap agar bantuan ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

“Atas nama Lazismu DI Yogyakarta mengucapkan terima kasih atas diterimanya bantuan ini. Bantuan berupa tandon air, air bersih, dan juga seperangkat alat sholat. Semoga bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan diharapkan tetap menjalankan pola hidup sehat,” ungkapnya.

(https://muhammadiyah.or.id/prihatin-atas-kesulitan-air-bersih-yang-dialami-pemulung-lazismu-salurkan-bantuan-tandon-air-dan-air-bersih/)

Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi Susun Produk Konten Kreatif

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Sabtu, 21 Januari 2023,  Tim Eco Bhinneka Muhammadiyah regional Banyuwangi menggelar “Workshop Peyusunan Produk Konten Kreatif Eco Bhinneka di Media Sosial.” Produk yang akan dihasilkan selama satu tahun ini dalam bentuk video dan E-brosur. Workshop bertempat di El Royal Hotel, Kabat, Banyuwangi. Diikuti oleh 12 peserta pemuda-pemudi lintas agama, tokoh agama, dan komunitas Difabel.

Sebelumnya dipilih para peserta yang telah memahami dasar pembuatan video dan e-Brosur, jadi saat workshop peserta tinggal menyusun konsep dan rencana konten kalender Eco Bhinneka selama satu tahun. Selain untuk membangun komunitas yang tangguh dan inklusif, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan materi kampanye Eco Bhinneka di Media Sosial.

Saat membuka acara, Drs. H. Mukhlis Lahuddin, M.Si., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuwangi mengatakan bahwa ada tiga yang mungkin akan dicapai dalam satu kesatuan latihan hari ini, “Dengan lisan kita menyuarakan, dengan tangan kita menulis, dan dengan perilaku kita mencontoh atau bisa memberikan contoh.”

Selanjutnya Windarti, Regional Manager Eco Bhinneka dalam materi “Urgensi Konten Kreatif Eco Bhinneka di Media Sosial” menyampaikan bahwasanya Eco Bhinneka merupakan  sebuah merk kampanye, sebuah gerakan kerukunan antarumat beragama atau toleransi dan juga pelestarian lingkungan. “Jadi, kita tingkatkan kesadaran khususnya masyarakat Banyuwangi mengenai kerukunan berbasis pelestarian lingkungan, juga menghindarkan generasi muda dari pengaruh negatif media social,” ungkapnya.

Turut hadir pula Nafi Ferdian, ST., MT., dengan materi “Strategi Kampanye Kerukunan dan Lingkungan di Media Sosial.” Beliau beraktivitas di bidang literasi digital dan media massa Dinas Komunikasi, Informasi, dan Persandian Banyuwangi. Nafi mengatakan bahwa konten yang menarik harus mengandung nilai-nilai universal, budaya digital yang santun dan memahami batasan dalam kebebasan berekspresi. Selain itu dalam pembuatan video harus dibuat senatural mungkin dan mengandung 5W+1H.

“Agar komunikasi efektif kita harus selalu memperhatikan penggunaan kalimat, berhati-hati saat menggunakan huruf, perhatikan pemilihan warna huruf, pemilihan simbol atau icon yang tepat, hindari penggunaan emoji, penggunaan bahasa yang sesuai, memberikan respon dengan segera, informasi yang jelas, dan valid” Ujar Shira Sahira, Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah dalam materi “Komunikasi Efektif di Media Sosial.”

Pada akhir worksop dibentuklah dua kelompok yaitu tim video (Santi pemuda katolik, Mahatma Adi pemuda Hindu, Giofani pemuda Budha, Umar anggota PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia), Zahro dan Syarifah fasilitator daerah Eco Bhinneka Banyuwangi.

Pada tim e-Brosur ada Ignasius pemuda Katolik, William pemuda Protestan, Tjahyadi tokoh agama Konghucu, Wasis dari PPDI, Maydini dan Fitri fasilitator daerah Eco Bhinneka Banyuwangi. Dua tim ini selanjutnya berdiskusi dan mempresentasikan alur rencana produksinya dan akhirnya berhasil menyusun rencana produksi konten kreatif Eco Bhinneka selama satu tahun.  (Maydini/Winda)

(https://suaramuhammadiyah.id/2023/01/26/eco-bhinneka-muhammadiyah-banyuwangi-susun-produk-konten-kreatif/)