By Widia Awalia
Gelar FGD di Desa Bulo, Rektor UMS Rappang: Siberas Harus Bisa Tingkatkan Pelayanan Publik Desa
SIDRAP — Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Program Hilirisasi Riset Prioritas-Sinergi 2026. Kegiatan ini membahas hilirisasi aplikasi Siberas sebagai platform digital governance untuk mendukung pelayanan publik dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
FGD tersebut digelar di Kantor Desa Bulo, Kecamatan Pancarijang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Rabu (26/8/2026).
Program hilirisasi aplikasi Siberas menyasar tiga desa, yakni Desa Bulo, Desa Sipodeceng, dan Desa Kalosi Alau. Ketiganya menjadi lokasi pendampingan UMS Rappang agar aplikasi Siberas dapat diimplementasikan secara optimal dalam pelayanan pemerintahan desa.
FGD dihadiri Ketua Tim Peneliti yang juga Rektor UMS Rappang, Prof Dr H Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si. Turut hadir anggota tim peneliti, Assoc. Prof. Dr. Ahmad Mustanir, S.I.P., M.Si., dan Muh. Wildan Mauludy, A.Md., S.Pd., M.Kom.
Sementara dari Pemerintah Desa Bulo hadir Kepala Desa Bulo Andi Rifai, M.S.Hi., bersama jajaran perangkat desa yang menjadi peserta FGD.
Dalam sambutannya, Prof. Jamaluddin Ahmad mengatakan program tersebut mendapat pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Karena itu, UMS Rappang memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendampingan kepada tiga desa penerima program.
"Alhamdulillah usulan kita diterima. Sehingga wajib hukumnya bagi kami untuk mendampingi Desa Bulo, Sipodeceng, dan Kalosi Alau bagaimana supaya aplikasi Siberas ini betul-betul bisa dimanfaatkan," katanya.
Prof. Jal menjelaskan, pada tahap awal aplikasi Siberas diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik, khususnya pelayanan administratif kepada masyarakat desa.
Selain itu, UMS Rappang mendorong agar aplikasi tersebut dapat terintegrasi dengan BUMDes sehingga digitalisasi tidak hanya berhenti pada urusan administrasi pemerintahan.
"Tujuan kita pada tahap awal bagaimana Siberas betul-betul dimanfaatkan untuk pelayanan publik kepada masyarakat. Kemudian yang kedua, bagaimana Siberas bisa terintegrasi dengan BUMDes," ujarnya.
Menurutnya, BUMDes perlu didorong menjadi bagian dari penguatan ekonomi desa. BUMDes tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Prof. Jal menilai desa perlu kreatif memanfaatkan potensi masyarakat dan teknologi digital untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang berdampak langsung kepada warga.
"BUMDes harus kreatif. Bagaimana memfasilitasi masyarakat yang memiliki sesuatu yang bernilai produktif dan bisa menghasilkan, kemudian difasilitasi untuk memanfaatkan dunia digital agar meningkatkan penghasilannya," katanya.
Dia menambahkan, pengembangan Siberas juga tidak boleh terlepas dari potensi ekonomi yang dimiliki Kabupaten Sidrap. Salah satu sektor yang dinilai memiliki kekuatan besar adalah pertanian.
Prof. Jamaluddin mengatakan penguatan sektor tersebut menjadi salah satu strategi untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah dengan memanfaatkan potensi yang memang sudah dimiliki Sidrap.
"Kalau kita berada di sektor pertanian, maka kembangkan pertanian. Biarlah kabupaten lain mengembangkan yang lain, tetapi kita kembangkan apa yang ada di kita sendiri," tuturnya.
Menurutnya, geliat ekonomi Sidrap juga dapat diperkuat melalui perputaran uang di daerah. Salah satunya ketika berbagai kegiatan dan kunjungan dari luar daerah berlangsung di Sidrap.
Dia mencontohkan, ketika orang dari luar daerah datang ke Sidrap, mereka akan menggunakan jasa penginapan, membeli makanan, dan berbelanja di daerah. Kondisi tersebut dinilai turut menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
"Kalau mereka datang ke Sidrap, pasti makan di Sidrap, belanja di Sidrap, menginap di penginapan di Sidrap. Artinya uangnya beredar di Sidrap," jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Jamaluddin Ahmad menyebut UMS Rappang Pendampingan akan berlangsung selama satu tahun, mulai Juli 2026 hingga Juli 2027.
"Selama satu tahun ini kami akan terus berkolaborasi," ungkapnya.
Pendampingan tersebut mencakup sosialisasi, pengembangan, pemberdayaan, serta penguatan pelayanan publik dan administrasi pemerintahan desa.
Prof. Jamaluddin Ahmad menegaskan, fokus utama program tetap pada dua hal, yakni meningkatkan kualitas pelayanan publik desa dan mengintegrasikan Siberas dengan BUMDes.
Dia juga meminta Pemerintah Desa Bulo tidak ragu menyampaikan kebutuhan dan kendala yang dihadapi kepada tim peneliti UMS Rappang selama proses pendampingan berlangsung.
"Ini tahap pertama. Harapan saya ini akan berlanjut terus. Kalau ada hal-hal yang perlu kita diskusikan, kita datang ke desa atau bisa juga kita undang ke kampus," katanya.
Prof, Jal berharap FGD menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi kebutuhan layanan yang dapat dikembangkan melalui Siberas sekaligus memetakan bentuk integrasi dengan BUMDes di masing-masing desa.
"Untuk langkah awal, kami butuh diskusi kira-kira pelayanan apa yang harus kita kembangkan melalui Siberas. Kemudian yang kedua, bagaimana mengintegrasikan Siberas dengan BUMDes yang ada sekarang," pungkasnya.
Artikel Lainnya :
- Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UMSRappang Jalani Asesmen LAMDIK, Kaprodi Harap Naik Level ke Unggul
- Raih Beasiswa S3 Taiwan, Dosen UMS Rappang Terima Surat Tugas dari Rektor
- Rapat KKD FAST UMS Rappang Jadi Momentum Evaluasi dan Penguatan Pembelajaran
- Mahasiswa Vokasional Seni Kuliner UMS Rappang Produksi 520 Snack Box untuk Pesma
- 405 Mahasiswa Baru UMS Rappang Ikuti Pesma, Rektor Tekankan Transformasi dan Karakter
